Kondisi dan Harapan Masyarakat Amungme dari Distrik Tembagapura Yang dievakuasi ke Kota Timika

Sejak tanggal 6 Maret 2020 masyarakat dari kampung Kembeli, Banti II, Banti I dan Opitawak di distrik Tembagapura berjumlah kurang lebih 1800 orang telah dievakuasi sementara ke kota Timika untuk menunggu sementara perang antara TPN – OPM dan TNI/POLRI kondusif kembali. Sejak turun ke Timika masyarakat sepakat untuk titip di masing – masing keluarga di Kwamki lama, Kwamki Baru, Jalan Baru, SP.1, Timika Indah, Irigasi, SP. 2, Jayanti dan Kuala Kencana. Sedangkan bagi mereka yang telah memiliki kos – kosan telah terpencar di sekitar kota Timika. Kebanyakan dari mereka adalah masyarakat awam yang tidak pernah memiliki pengalaman hidup di dataran rendah yang suhu udaranya sangat bedah jauh dengan distrik Tembagapura yang suhu udarannya sangat dingin.

Masyarakat sedang dalam keadaan dilema perang yang sudah terjadi di kampung Banti I, Banti II, Opitawak dan Kembeli masyarakat mendapat trauma baru dengan hadirnya penyakit Covid – 19. Dengan keadaan hidup mereka yang sangat disayangkan dimana 1 rumah dihuni oleh 4 s/d 7 keluarga dan 1 rumah kos yang memiliki 2 kamar dihuni oleh 3 keluarga sampai 6 keluarga yang masing – masing memiliki lebih dari 1 anak ditambah tete atau nenek. Dengan hadirnya penyakit Covid – 19 maka kondisi hidup mereka sangat di sayangkan karena jika satu orang dapat penyakit maka semua yang huni dalam 1 rumah atau kos akan dapat tertular penyakit.

Mereka turun dari distrik Tembagapura meninggalkan seluruh harta seperti ternak, kebun, pekerjaan dan tempat dulang emas. Uang yang mereka bawa turun untuk belanja kebutuhan sehari – hari perlahan telah habis dalam sebulan. Semenjak tanggal 6 Maret 2020 s/d sekarang 19 Mei 2020 mereka sudah susah belanja kebutuhan makan dan minum sehari – hari dan sulit untuk menggunakan transportasi untuk melakukan aktivitas sehari – hari. Kebutuhan makanan yang diberikan ketika tiba di Timika telah habis dalam dua Minggu dan ke dua kalinya PT. Freeport telah memberikan bantuan bama 1 beras kotor yang tidak layak dimakan, 1 kotak Mie dan 1 Kotak Minyak goreng pada bulan April 2020.

Dengan beradaptasi di wilayah yang baru dalam banyak kekurangan membuat masyarakat tak berdaya untuk tinggal di Timika, keterpaksaan ini seakan – akan membuat masyarakat tidak mampu bertahan hidup di Timika. Masyarakat asli yang berabad – abad hidup di negerinya dengan damai rindu kembli ke dusun mereka.

Masyarakat merasa bahwa mereka turun ke Timika untuk mencari tempat untuk evakuasi sementara namun mereka kecewa berat dengan PT. Freeport Indonesia yang masih saja menambang hasil kekayaan mereka dalam situasi apupun tanpa menghiraukan pemilik hak ulayat yang menjadi korban dari perang yang telah targetkan PT. Freeport Indonesia. Seharusnya kami sebagai Pemilik Hak Sulung wilayah kerja PT. Freeport Indonesia wajib hukumnya PT. Freeport Indonesia hadir untuk melihat dan melayani kami dalam kondisi yang berkekurangan tempat tinggal, makan dan minum dan transportasi. Seharusnya kami diberi akomodasi yang layak untuk dihuni tanpa harus dititip di rumah – rumah saudara dan kos – kosan.

Pemerintah daerah Kabupaten Mimika pun demikian, hari pertama telah menerima kami dengan baik – baik namun setelah berjalannya waktu kami tidak pernah diberi perhatian dari Pemerintah sejak akhir bulan Maret 2020. Setelah kami di suruh tinggal dirumah masing – masing keluarga namun dimana kah perhatian pemerintah tehadap kami masyarakat adat Amungme asli Timika yang menjadi korban perang? Seakan – akan pemerintah menutup mata dan telinga untuk melihat kami.

Siapa yang harus kami pergi untuk memohon perhatian dan bantuan untuk menguatkan kami dalam keadaan ekonomi yang lemah dan kehidupan kami yang sudah ada dibawah garis kemiskinan. Kami tidak mau menderita untuk sebulan lagi dan kami tidak kuat.

Kami masyarakat Adat Amungme dari kampung Kembeli, Banti II, Banti I dan Opitawak di distrik Tembagapura hanya memohon kepada PT. Freeport Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Mimika untuk mengembalikan kami ke dusun kami. Kami rindu untuk melanjutkan kembali aktivitas kami seperti semula.

Jika memang situasi masih belum aman tolong Pemerintah Indonesia lebih khusus Pemerintah Kabupaten Mimika dan PT. Freeport Indonesia untuk melihat kami dengan mata hati sebagai mahkluk ciptaan Tuhan Yang Mulia. Kami butuh tempat yang layak untuk dihuni, kami butuh jaminan makan – minum yang cukup dan kami membutuhkan ongkos transportasi untuk kami bisa pulang pergi tempat tujuan.

TUHAN & LELUHUR MEMBERKATI
AMOLONG – O