Sertifikat tanah yang didalamnya memuat spesifikasi luas tanah terkadang tak selamanya membuat pemilik sertifikat tenang dan bebas dari gangguan pihak lain. Seperti yang menimpa Ibu P di daerah Kemang misalnya, setelah beberapa puluh tahun bebas dari masalah tanah, di tahun 2018 Ibu P dikejutkan dengan pemasangan patok tepat didepan pintu gerbang rumahnya yang dilakukan oleh tetangganya, sebut saja Ibu L. Pemasangan patok tersebut mengakibatkan Ibu P kesulitan untuk mengakses jalan baik untuk keluar dan/atau masuk ke dalam pekarangan rumahnya.

Setelah dilakukan mediasi di BPN dan melakukan perbandingan dua sertifikat milik Ibu P (Sertifikat tahun 1991) dan Ibu L (Sertifikat tahun 1973), ternyata kesalahan terjadi pada pemetaan sertifikat di BPN yang mengalami tumpang tindih/sertifikat ganda (overlapping). Akibat hal ini, berdasarkan hasil mediasi di BPN, Ibu P yang tahun sertifikatnya lebih muda diharuskan untuk membeli sebidang tanah yang disengketakan untuk kembali mendapatkan akses mudah keluar rumahnya. Hingga saat ini, akses jalan masih ditutup oleh Ibu L meskipun telah ada kesepakatan hasil mediasi dengan BPN. Oleh karenanya, Ibu P dibantu oleh Lokataru terus berupaya untuk melakukan mediasi dengan BPN dan Ibu L.